Pendidikan karakter adalah bagian utama dalam membangun daya saing bangsa, sesuai dengan visi pendidikan kita. Berbagai kalangan mengakui bahwa dewasa ini karakter bangsa sudah cukup memprihatinkan. Mereka berpendapat bahwa perlu adanya upaya efektif dan massif yang diperlukan bangsa ini untuk mengembalikan jati diri atau karakter bangsa yang sudah semakin melemah itu, istilah Jokowi : perlu revolusi mental, meskipun hingga kini penulis belum mendapatkan kejelasan bagaimana Jokowi menerjemahkan jargon tersebut dalam pemerintahannya.

Tentu saja salah satu wadah pembentukan karakter tersebut adalah melalui dunia pendidikan, baik formal maupun non formal. Meskipun perlu dicatat, pendidikan bukanlah satu-satunya pembehtuk karakter itu.
Sebagaimana diketahui, NLP adalah ‘teknologi’ berpikir dan berperilaku. Dengan tool-tool yang ada dalam NLP, kita dapat melakukan pembentukan karakter siswa ataupun mahasiswa secara lebih efektif dan massif.

Nah, sambil Anda menikmati kopi di pagi hari yang sejuk ini, saya akan mecoba menjelaskan bagaimana NLP dapat membantu Guru atau dosen atau siapapun yang tertarik ikut berjuang untuk memperbaiki bangsa ini.

Pendekatan NLP dalam membentuk karakter siswa atau mahasiswa tentu saja merupakan pendekatan berkomunikasi persuasif, baik lisan maupun tulisan dengan memasukkan prinsip-prinsip yang terdapat dalam Neuro-Linguistic Programming (NLP).

Bila kita rinci, maka teknik atau prinsip NLP diantaranya akan menyajikan outcome berikut:
1. Berkembangnya potensi peserta didik untuk menjadi pribadi yang berperilaku baik
2. Memperbaiki teknik guru dan dosen dalam membawakan proses pembelajaran.
3. Guru, dosen, siswa atau mahasiswa bersama-sama membangun kemampuan memberdayakan diri, kreatif, dan mental berlimpah.

Penerapan Prinsip NLP dalam Proses Pembelajaran

a.    Menyelaraskan kondisi pikiran
Hal ini dilakukan untuk menggiring state of mind siswa yaitu membuka pelajaran dengan menggunakan kalimat yang akan menuntun pikiran siswa digiring secara emosional.
b.    Mengarahkan pada kondisi terbaik untuk belajar.
Tahap ini mulai untuk mengarahkan kondisi perasaan peserta didik pada kondisi belajar yang menyenangkan.
c.    Memicu anchor.
Keadaan tidak bersemangat bisa dikembalikan dengan cara memicu kembali anchor yang sudah dibuat pada fase kedua sehingga perasaan atau keadaan siswa menjadi bersemangat kembali.
d.    Nested loop
Proses merangkaikan berbagai bagian pelajaran menjadi suatu jejaring yang saling mengikat dan berhubungan, baik dengan pelajaran yang lalu maupun dengan pelajaran lain yang berbeda.
e.    Future pacing
Membawa pikiran siswa ke masa depan pada suatu situasi mereka akan membutuhkan ilmu tersebut.

Penerapan NLP dalam membangun bahan ajar

Agar selaras, proses pembelajaran tidak hanya fokus pada praktik di kelas, tetapi juga melibatkan NLP dalam membangun bahan atau materi ajar. Berikut beberapa prinsip yang minimal harus diterapkan dalam membangun bahan ajar:

1. Prinsip relevansi, keterkaitan atau kesesuaian.
Materi pembelajaran hendaknya relevan atau ada kaitan dengan pencapaian kemampuan tertentu.
2. Prinsip konsistensi (keajegan),
Konsisten atau ajeg terhadap aspek-aspek yang menjadi target penguasaan pembelajar ketika menggunakan bahasa.
3. Prinsip kecukupan, materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dan membantu pembelajar untuk mencapai keterampilan tertentu.

Perlu dicatat, ada salah satu teknik NLP yang harus terus menerus digunakan dalam berkomunikasi dalam proses pembelajaran adalah Teknik rapport building, yang terdiri atas dua hal, yaitu:
·      Pacing merupakan proses untuk memberikan umpan kepada lawan bicara melalui tingkah laku, yaitu dengan menyamakan cara duduk, menyamakan cara bicara, intonasi suara, bahkan sampai menyamakan bahasa tubuh lainnya.
·      Leading, upaya mengambil alih untuk memimpin pembicaraan. Penerapan teknik ini bisa dilakukan dengan cara memperhatikan pola-pola kalimat yang digunakan lawan bicara dan meniru pola-pola kalimat atau kata-kata yang digunakannya.

Comments are closed.