Memuji anak dan menunjukkan kesalahan tanpa membuat anak merasa malu, bisa melatih anak memiliki karakter yang baik.
Sebuah survei mengungkapkan bahwa sekarang ini orang tua di seluruh dunia merasa bahwa menjadikan anak sebagai sosok yang baik, penuh kasih dan senang menolong adalah hal utama. Para orang tua ini sadar bahwa ternyata orang-orang yang sukses dalam kehidupanya  didukung oleh faktor hanya 20 persen: kemampuan teknis, dan 80 persen non teknis (soft Skill).

Untuk memperkuat kepedulian anak, agar terbiasa melakukan kebaikan,  orang tua dapat memberikan pujian sebagai bentuk penghargaan.

Pujian itu jauh lebih efektif dibanding hadiah. Sebab jika orang tua memberikan hadiah untuk kebaikan yang dilakukan anak maka anak hanya akan berbuat baik jika diimingi oleh hadiah.

“Pujian membuat anak bersedia mengulangi perilaku yang baik. Katakan saja bahwa dia sudah sangat membantu atau kamu hebat,” ujar Adam Grant, seorang profesor manajemen dan psikologi di Wharton School of University of Pennsylvania.
Untuk membuktikannya, Joan E. Grusec dan Erica Redler melakukan sebuah eksperimen dengan membandingkan pujian yang diberikan sebelum dan sesudah kebaikan dilakukan.

Penelitian ini melibatkan anak-anak berusia 7 hingga 8 tahun. Mereka diminta untuk bermain kelereng dan memberikannya kepada yang membutuhkan. Sebagian anak akan dipuji setelah mereka memberikan kelereng tersebut, sedang sisanya dipuji sebelum kelereng diberikan.

“Kami mengatakan pada anak yang belum memberikan kelerengnya. Kamu adalah anak yang senang membantu kapan pun kamu bisa, benar kan?” ujar peneliti.

Beberapa minggu kemudian, saat anak-anak dihadapkan dengan banyaknya kesempatan untuk memberi dan berbagi, anak-anak yang dipuji sebelum memberikan kelereng jauh lebih murah hati dan berbuat baik dibanding anak yang dipuji setelah memberikan kelereng.

Ini menunjukkan bahwa memuji karakter anak jauh lebih efektif dibanding pujian yang digunakan sebagai penghargaan.

Tapi bukan hanya pujian yang dapat membuat anak bersikap baik. Kesalahan yang dilakukan anak, juga bisa jadi pelajaran agar anak bersedia berbuat baik. Caranya adalah membuatnya merasa bersalah tetapi tidak membuatnya merasa malu.

“Malu adalah perasaan bahwa saya orang jahat, sedangkan rasa bersalah adalah perasaan bahwa saya telah melakukan hal yang buruk,” ujar psikolog June Price Tangney

Perasaan malu membuat anak merasa kecil dan tidak berharga. Hasilnya anak akan meresponsnya dengan melarikan diri atau bersikap kasar. Sedangkan rasa bersalah akan membuatnya belajar untuk memperbaiki diri. Sebab, anak akan mengalami penyesalan dan mulai berempati pada orang yang telah ia rugikan.

Sumber:dari berbagai sumber

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

  • Arsip