Saya masih menyimpan catatan pidato Jokowi saat pelantikan di gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, pada Senin 20 Oktober 2014 lalu. Pada saat itu, Jokowi dengan gagah perkasa bak Gatot Kaca tak berkumis, mengibaratkan dirinya sebagai nakhoda yang dipercaya oleh rakyat. Lalu dia mengajak semua rakyat naik ke atas kapal bernama ‘Republik Indonesia dan berlayar menuju Indonesia Raya’. “Kita akan kembangkan layar yang kuat. Kita akan hadapi semua badai dan gelombang samudera dengan kekuatan kita sendiri. Saya akan berdiri di bawah kehendak rakyat dan konstitusi,” kata Jokowi dalam pidatonya tersebut lantang, lancar, dan tegas.

Tapi kemudian, belum genap setahun, sang Joko kemarin tampil di depan istana Bogor dengan raut Galau dan penuh tekanan menanggapi situasi yang sedang berlangsung saat ini. “Dan tadi saya sampaikan terutama pada Ketua KPK dan Wakapolri, sebagai Kepala Negara saya meminta pada institusi Polri dan KPK, memastikan bahwa proses hukum yang ada harus obyektif dan sesuai dengan aturan UU yang ada. Tadi saya juga meminta, sebagai Kepala Negara, agar institusi Polri dan KPK tidak terjadi gesekan dalam menjalankan tugas masing-masing. 2 hal itu tadi yang saya sampaikan dan kita berharap semuanya juga, media, terutama, menyampaikan hal-hal yang obyektif,” begitu pernyataan resmi Jokowi dari Istana Bogor.

Hanya begitu sajakah?

Entahlah. Yang jelas nampak di depan publik, yang oleh anak buahnya disebut sebagai ‘rakyat tak jelas’ hanya ini yang bisa disampaikan menyikapi kekisruhan cicak-buaya. Padahal sebagai kepala negara diharapkan bisa menuntaskan kekisruhan ini secara kekuasaan.

Padahal, anak kecil juga tahu, lembaga negara anti korupsi KPK sedang dikriminalisasi secara sistemik.

Lalu mana janji “Kita akan kembangkan layar yang kuat. Kita akan hadapi semua badai dan gelombang samudera dengan kekuatan kita sendiri. Saya akan berdiri di bawah kehendak rakyat dan konstitusi,” ???

Rakyat tak jelas (istilah pak Tejo, Menkopolhukam)
#saveKPK

Comments are closed.