Suatu ketika saya bertemu seorang kawan yang sudah lama sekali terpisahkan. Sebagaimana dua orang sahabat yang lama tidak berjumpa, kami ngomong ”ngalor-ngidul”, mulai soal masa lalu hingga tentang masa depan, mulai soal ringan sampai yang agak berat.

Ketika dia mendengar tentang profesi saya, lalu tentang pelatihan komunikasi dan presentasi yang sering saya lakukan, dia sangat tertarik. Tapi, jangan salah, bukan tertarik ingin mengikuti. Justeru dia bertanya begini: “masak presentasi begitu saja perlu pelatihan segala?!”. Katanya lagi,

“Menurut pengalaman puluhan tahun DARIPADA aku berpresentasi, bagaimanapun yang penting adalah penguasaan DARIPADA materinya yang mau disampaikan. Kalau tidak, biar bagaimanapun pasti gagal. Dahulu, di awal-awal sih, grogi juga, tapi karena DARIPADA sudah sering melakukannya, jadi tidak gugup lagi. Bahkan setiap hari aku mengajar mahasiswa DARIPADA mata kuliah yang aku AJARI, bukankah itu termasuk DARIPADA presentasi juga? Selain DARIPADA materi yang harus dikuasai, yang kedua adalah penguasaan bikin slide DARIPADA powerpoint, itu loh, yang dibuat DARIPADA microsoft office. Dan, menurutku itu SANGAT-SANGAT mudah SEKALI! wong, semua petunjuknya ada kok. Gak perlu berlatih DARIPADA dengan orang lain, aku sudah bisa sendiri.

Materinya tinggal diringkas, lalu COPY dan PASTE kan di tempat tertentu DARIPADA slide yang kita buat. Beres! tinggal milih-milih DARIPADA desain atau template yang sudah disediain DARIPADA microsoft AGAR SUPAYA tampilannya menarik!

Hemm, aku juga bahkan sudah pernah tampil di berbagai seminar DARIPADA internasional, hebatnya setiap kali aku tampil hampir-hampir TIDAK ADA YANG BERTANYA, karena PASTI apa yang aku sampaikan DARIPADA materinya, sudah SANGAT jelas SEKALI! jadi, orang seperti aku ini kan tidak perlu ikut DARIPADA pelatihan seperti itu toh?”

Saya hanya manggut-manggut menyimak apa yang keluar DARIPADA mulut temanku ini. Hebat! dia memang dari dulu begitu, selalu saja berada DARIPADA di depan, seperti slogan iklan merek sepeda motor itu. (Nah, saya jadi ikut-ikutan, nih).

Lalu saya jawab: “Oke, begini saja. Pada tanggal hari pelatihan yang aku jadwalkan itu, kamu bisa hadir ‘kan? ayo dong, kamu memang gak perlu lagi ikut pelatihan, tapi sebagai sahabat kamu bisa bantu dong. Hitung-hitung, melepas kangen juga.”

Ia mengangguk setuju. Lalu, saya berdoa, semoga ia bisa hadir, dan setelahnya tidak lagi mengucapkan kata “DARIPADA” berulang-ulang, dan hanya digunakan secara tepat, lalu kelak ketika melakukan presentasi, audiensnya dan mahasiswanya akan banyak bertanya dan antusias terhadap materi yang ia bawakan. Dan mahasiswanya menjadi lebih cerdas DARIPADA sebelumnya.

Aamiin.

2 Responses so far.

  1. Fzar berkata:

    Kebanyakan kata yang diulang jadi lucu pa lah…

    Kayak Mr.Prabowo kebanyakan pakai “Bocor, bocor..”, efeknya jadi bahan olokan, padahal calon presiden tuh..

    Salam Hormat,