“Jika Anda mengaku pernah bercinta dengan Jennifer Lawrence, ah, itu sudah pasti halusinasi! Apalagi jika Anda juga mengaku pernah jalan-jalan dengan tiga personil The Angels, itu apalagi! Berhalusinasi kerap punya visual yang vivid alias gamblang. Bangun di sebelah Shela Nadine? Ah, sudah pasti halusinasi 100%! “(Majalah Pria Popular,30Okt2015).

Kutipan di atas hanya satu dari sekian banyak cerita ttg halusinasi. Manusia memang kerap berhalusinasi, akibat, diantaranya karena kebanyakan berkhayal dan terlalu fokus pada khayalannya. Sebab lainnya, bisa jadi karena tekanan batin (baca: pikiran),, misal: telah melakukan kesalahan fatal terhadap orang lain, tapi Anda menolak menyesalinya, sehingga pikiran Anda mencoba menolak efek dari kesalahan tersebut. Caranya? Yang paling mudah adalah mengarang fakta bahwa yang melakukan kesalahan adalah orang lain, sehingga Anda hanya terkena dampak dari kesalahan org tsb. Hal ini memang cukup efektif mengurangi “anxiety” atau sindroma lainnya. Ini bisa terjadi krn otak bawah sadar kita memang tidak memiliki kemampuan membedakan sesuatu itu NYATA ataukah KHAYALAN.¬† Sayangnya, ia juga tidak bisa membedakan antara yang baik dan buruk. Yang terakhir ini yang kalau kita biarkan, maka halusinasi kita bisa liar tak terkendali. Kita lah yang harus jadi panglimanya.

Jadi, kalau Anda ketemu orang yang usai melakukan kesalahan, sehingga mengakibatkan org lain menderita, sakit hati misalnya, merasa terhina, dsb..,lalu si pelaku dengan lantang bilang, dirinyalah yang merasa dihina,dilecehkan, bahkan sakit hati….seolah dialah korban. Maka, sudah pasti ini 100% halusinasi – hasil buah karya bawah sadar yang tak terkendali.

Sayangnya, alih-alih ingin membebaskan diri dari rasa bersalah, justeru dia kebablasan merasa sakit hati, benci, merasa terhina, atau apalah-apalah….

Negatif lainnya, buat si korban, yang sdh terpuruk, makin ‘teraniaya’ akibat terbentuknya opini buruk di antara teman-temannya yang percaya faktanya sesuai rekayasa halusinasi tadi.

Nah, solusi yang bisa diambil agar tidak terjadi hal demikian dalam diri Anda, di antaranya:

  1. Biasakan memaafkan kesalahan diri sendiri. Mulailah dengan menerima kenyataan bahwa sesuatu telah terjadi. Lalu, berdamailah dengan diri sendiri.
  2. Kurangi Ego dan perasaan gengsi, beranilah mengakui kesalahan, lalu lapangkan hati untuk meminta maaf kepada orang yang terdampak dari perilaku salah Anda.
  3. Tersenyumlah,dan lihatlah gambaran dunia yang maha luas ini. Akuilah, Life is real! Hidup itu nyata kawan.

 

 

 

 

 

 

Comments are closed.