Anak-anak kita bagaimanapun adalah amanah bagi kita. Apakah ia anak kandung, bukan kandung, laki-laki atau perempuan, masih kecil atau dewasa, semua tetap anak kita.

Apakah dia bodoh atau cerdas, kreatif atau tidak kreatif, berkelakuan buruk atau baik. Bukankah sama saja, itu adalah amanah juga?

Itu keadaan dalam keluarga yang disebut struktur rumah tangga.  Di luar itu, ada lagi struktur dalam organisasi, yang penghuninya tersusun sebagai ‘keluarga ‘ besar. Yang seharusnyalah seorang pemimpin organisasi berlaku dan bertindak sebagai bapaknya ‘anak-anak’ keluarga besar itu.

Apalagi di dunia pendidikan, dimana anak-anak dititipkan dan dipercayakan oleh keluarga mereka, untuk dididik untuk menjadi manusia yang berguna.

Atau setidaknya, jika anak itu adalah mahasiswa yang datang sendiri meminta dididik, karena mereka percaya bahwa tempat yang mereka datangi adalah tempat menempa diri yang tepat untuk membangun fondasi masa depan mereka yang mereka minati dan cita-citakan.

Tetapi, seperti yang telah disebutkan di atas: anak-anak tetaplah anak-anak kita. Apapun label yang telanjur atau belum telanjur ditempelkan di belakang ‘Si’ mereka.  Ada ‘Si bodoh’, ada ‘si pintar’, ‘si pemberontak’, ‘si pecita-citakan Tetapi apakah yang katanya kita yang harus amanah itu, kemudian memilah dan memecah mereka, lalu ‘membuang’ yang tidak terpilih itu, begitu saja?

Ingat, ‘label’ yang ditempelkan pada si anak, adalah hasil dari proses pendidikan si bapak untuk anak-anaknya.  Dengan kata lain, tengoklah: diri sendiri, apa yang sudah kita berikan untuk mendidik mereka?

Dan memang, label yang positip tentu akan menjadi karya fenomenal si ‘bapak’ sebagai ukuran prestatifnya.

Sebaliknya, label yang buruk pada si anak, akan mengurangi ‘nilai’ si bapak. Bahkan si bapak akan dianggap GAGAL dalam membina anak-anaknya.

Oleh karena itu sangat naif dan kontraproduktif dengan yang katanya AMANAH, jika anak-anak buah gagal tadi dicoba dengan berbagai justifikasi untuk disingkirkan.

Saya ingin mengutip secara lengkap sebuah puisi yang ditulis oleh Dorothy Law Nolte, berikut dengan terjemahan bebasnya, di bawah ini.

Semoga ini menginspirasi kita dalam mendidik anak-anak kita dalam ranah apapun. Apakah itu di ranah keluarga, organisasi ataupun di struktur pendidikan the real campus STIE Indonesia Banjarmasin yang sama-sama kita cintai.

“Children Learn What They Live”
By Dorothy Law Nolte, Ph.D.

If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.

Copyright © 1972 by Dorothy Law Nolte
Terjemahan bebasnya:

Anak Belajar Dari Apa yang diajarkan.
Oleh Dorothy Law Nolte, Ph.D.

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, mereka belajar untuk memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, mereka belajar untuk melawan.
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, mereka belajar untuk menjadi pencemas.
Jika anak-anak hidup dengan belas kasihan, mereka belajar untuk mengasihani diri sendiri.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, mereka belajar untuk menjadi  rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan iri hati, mereka belajar menjadi pendengki.
Jika anak dibesarkan dengan rasa malu, mereka belajar untuk merasa bersalah.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar kesabaran.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, mereka belajar untuk mencintai.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, mereka belajar untuk menyukai diri mereka sendiri.
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, mereka belajar untuk memiliki tujuan yang baik.
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan.
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran, mereka belajar kebenaran.
Jika anak dibesarkan dengan keadilan, mereka belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan kebaikan dan pertimbangan, mereka belajar menghormati.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan keramahan, mereka belajar fakta bahwa dunia adalah tempat yang bagus untuk hidup.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan CINTA dan persahabatan…

Selamat ber’hijrah’ !

Comments are closed.