Saat ini hipnosis atau hipnotisme sedang marak-maraknya. Mulai sudut-sudut kota hingga ke kampung- kampung, kita temukan brosur-brosur, atau di tiang-tiang listrik kita temukan iklan tempel: tentang pelatihan “hipnotis”, mulai dari kelas premium yang berlabel jutaan, hingga kelas ‘pahe’   ratusan ribuan saja.

Kita juga sempat disuguhi headline   berita   kejahatan bermodus  hipnotisme  di  koran,  radio, atau   televisi.   Kita juga mungkin  terpesona  dengan  tayangan  hiburan seputar kehebatan dan kekonyolan aksi hipnotisme panggung, mulai dari yang live show sampai  ke tayangan tunda.

Hipnotisme  seperti  gelombang  tren dengan segala paradoxnya yang menjangkiti masyarakat Indonesia baru-baru ini.  Di satu sisi  berbicara  tentang  peningkatan    kualitas  sumberdaya  manusia,  pengembangan potensi diri, motivasi, dan perubahan Indonesia yang lebih baik.  Di sisi lain terselip semangat kapitalisme, setiap   hari   terus   bertambah   produk pelatihan hipnotisme terhebat, terbaru, dan bermacam gelar yang akan diperoleh  setelah mengikutinya, padahal hanya pelatihan beberapa hari. Dan, dengan gagahnya, peserta yang selesai pelatihan menambahkan gelar tertentu di belakang namanya.  Padahal, kitapun tahu dalam system pendidikan kita, gelar itu hanya bisa diperoleh melalui pendidikan formal, jika terkait profesi, maka oleh pendidikan profesi.  Dalam system pendidikan kita, jangankan lembaga kursus atau pelatihan, lembaga pendidikan formal saja, belum tentu boleh menerbitkan ijasah dan gelar, karena  harus melalui serangkaian uji pengawasan, dan ada kewajiban akreditasi nasional dari lembaga independen.

Tulisan ini tidak berkehendak membahas soal gelar dan pelatihannya di atas, karena itu berada di ranah yang berbeda dari tujuan keberadaan web ini. Saya lebih tertarik terhadap kontennya, karena terlepas dari pernik-pernik kapitalisme modern tadi, menurut saya hypnosis atau hipnotis memang sangat diperlukan di masyarakat karena manfaatnya yang luar biasa dan luas, jika kita memahami secara utuh apa itu hypnosis atau hipnotis sesungguhnya.

Sayangnya, kenyataan menunjukkan  masih banyak masyarakat  yang terkooptasi pemahaman hipnotisme tradisional yang bersifat mistik dan gaib, atau bahkan, sedikit lebih modern,  hipnotis panggung yang cenderung asal menciptakan kelucuan dan kekaguman, tetapi sangat  jauh dari arena mendidik dan  memberdayakan  di tengah masyarakat yang sesungguhnya sedang sangat kehausan akan mental berlimpah.

Hypnosis atau hipnosis atau keseharian kita menyebutnya hipnotis atau hipnotisme, memiliki sejarah panjang. Tentu yang dikemukakan di sini adalah jenis hipnosis yang saya pelajari dan kuasai berdasarkan metode pembelajaran ilmiah, bukan yang  mengandung  klenik,  alam  gaib  atau  lainnya  yang  oleh  orang  awam dihubungkan dengan itu. Sekaligus ingin menyatakan, bahwa siapapun bisa mempelajari hipnosis dan menjadi seorang hipnotis, kemudian memanfaatkannya untuk pemberdayaan diri sendiri, keluarga ataupun orang lain yang memerlukan bantuan kita.

Sejarah Singkat

Agar diperoleh pemahaman komprehensif terhadap apa yang disebut hipnosis, kita perlu mengenal sedikit tentang sejarah  perkembangannya. Menurut banyak literatur, perkembangan hipnosis dimulai sekitar 200 tahun yang lalu,  yang mulai dikenalkan oleh Franz Anton Mezmer.  Mezmer adalah seorang dokter di Austria yang sering disebut sebagai bapak hipnotis, walaupun teknik dan teori yang dikembangkannya sama sekali berbeda dengan hipnosis yang kita kenal saat ini.

Ia percaya bahwa terdapat cairan magnetis di dalam diri dan di sekitar manusia yang dapat kehilangan keseimbangan dan menyebabkan berbagai penyakit. Lalu, ia membantu penyembuhan penyakit  dengan menggunakan besi dan magnet untuk mengembalikan keseimbangan cairan magnetik itu. Ia akan mengisi sebuah bak mandi dengan biji besi dan pasiennya akan masuk ke dalam bak tersebut sambil Mezmer menggerakkan sebatang besi ke seluruh tubuh pasien.

Ternyata yang dilakukan Mezmer adalah membangkitkan imajinasi pasien dan membuat pasien tersebut menjadi sugestif. Dalam istilah Hipnosis Modern, kita kenal sebagai ”Waking Hypnosis”.

Setelah Mezmer dengan magnetismenya, banyak lagi tokoh lain yang turut menyumbangkan sejarah perkembangan hipnotis modern sekarang ini. Misalnya,  Dave Elman yang bukan dokter, bukan pula psikolog. Ia dilahirkan di North Dakota dan mulai tertarik kepada hipnosis sejak kecil. Kontribusi terbesarnya adalah penggunaan induksi instan dan teknik-teknik Age Regression.

Satu lagi yang wajib kita sebut di sini adalah: Milton D  Erickson  (1901-1980)  yang  saat  berumur  17  tahun terkena Polio. Walaupun ia divonis akan segera mati, dia berhasil keluar dari krisis, meskipun tetap lumpuh. Dia hanya bisa menggerakkan matanya. Sebagai dampak dari polio yang dideritanya, ia  juga menjadi tuli, buta warna (tapi bisa mengenali warna ungu favoritnya), dan mengalami dyslexia. Pada saat itu dia  selalu  dalam  keadaan  terikat  di  kursi rodanya.  Suatu hari ketika ia ditinggal sendirian oleh keluarganya,  dia melihat ke arah jendela dan berharap bisa melihat ke luar. Saat dia menatap jendela, tiba-tiba kursinya bergerak perlahan. Kenapa ini bisa terjadi? Apakah mungkin otot-otot bisa bergerak hanya dengan sebuah keinginan? Tanpa sadar Milton telah mengalami ideomotor response.

Sesudah  itu  ia  mulai  membayangkan  bagaimana  rasanya  otot-otot  itu  bekerja  seperti  saat  dia menggerakkan tangan, kaki, dan bagian lain dari tubuhnya. Seiring berjalannya waktu otot-ototnya mulai bekerja seperti semula. Berdasarkan pengalaman ini, kemudian ia menjadi seorang hipnoterapis yang paling terkenal di abad ke-dua puluh. Ia terkenal dengan teknik menginduksi seseorang baik secara langsung ataupun tidak langsung dengan begitu banyak variasi pada setiap metoda, sehingga sering di literatur hypnosis selalu disebut namanya, dengan Ericksonian, atau Milton Model, dll.

Setelah ia meninggal Hypnotherapy telah dikenal dan diakui begitu banyak instansi dan masyarakat luas dan bahkan beberapa rumah sakit telah menyertakan hipnoterapis sebagai salah satu bagian staff kedokteran.

Apa Sih Sesungguhnya Hipnotis Itu?

Saya menyebut  hipnosis  (hypnosis)  sebagai  kondisi  atau  keadaan  subyek  atau  klien,  dan hipnotis (hypnotist) untuk menyebut pelaku/praktisi atau orang yang melakukan hipnosis. Hipnosis  sesungguhnya  merupakan  fenomena  biasa, yang sangat lekat dengan kehidupan   sehari-hari.

Hipnosis berasal dari kata Yunani ‘hypnos’ yang berarti ‘tertidur’, sekalipun pada praktiknya, orang yang terhipnosis tidak sama dengan tidur. Seseorang yang dalam kondisi hipnosis sebetulnya pada kondisi terkonsentrasi internal. Jadi proses hipnosis adalah proses membimbing seseorang berpindah fokus dari eksternal ke internal (konsentrasi). Jadi sebenarnya hipnosis adalah salah satu bentuk kondisi kesadaran yang sangat rileks dan responsif terhadap arahan orang lain ataupun diri sendiri, atau disebut juga keadaan trance. Sebagaimana pengertian umum rileks berarti melepaskan diri dari kesibukan berlogika, lepas dari memikirkan agenda kegiatan sehari-hari. Begitulah kira-kira kondisi seseorang yang dalam hipnosis,  sebenarnya seseorang memasuki kondisi rileks total.

Menurut berbagai ahli,secara sederhana kita dapat mengatakan bahwa pikiran manusia terdiri dari dua fungsi:pikiran sadar(berpengaruh pada kehidupan kita sekitar 12%), dan pikiran bawah sadar (88%). Artinya pikiran bawah sadar mengelola lebih banyak kehidupan kita. Ada ahli lain yang membedakan menjadi 3 (sadar,bawah sadar, dan tak sadar), namun untuk memudahkan kita sederhanakan saja hanya ada dua fungsi. Pikiran sadar berfungsi secara kritis memfilter segala informasi yang akan masuk ke otak, menimbang,  memeriksa  secara  logis,  menganalisis  dan  seterusnya.  Sedangkan  pikiran  bawah  sadar berfungsi menyimpan memori, program-program dan pola prilaku kita, demikian juga mengatur berbagai fungsi organ tubuh. Pikiran bawah sadar tidak bisa membedakan antara realitas dan imajinasi. Pada saat kita rileks dan konsentrasi, secara otomatis pikiran bawah sadar ini akan terakses. Ini dapat menjelaskan kenapa kreativitas seseorang munculnya pada saat ia sangat rileks.

Contoh lain gejala hipnosis adalah, saat kita nonton TV, dimana perhatian kita terfokus sepenuhnya ke  TV, maka kita tidak sadar akan sekeliling dan menjadi sangat tersugesti oleh TV. Ketika TV menampilkan cerita sedih, kita bahkan ikut menangis, dan sebaliknya kita bisa marah, jika di TV ada berita yang menyinggung kemanusiaan kita.

Fenomena hipnosis/trance ringan juga bisa kita temukan saat terhanyut membaca buku, menyetir, mendengarkan musik, dll.

Ada tiga buah fenomena yang terjadi dalam proses trance:

a.Penerobosan filter pikiran kritis; b. Peningkatan sugestibilitas; c. Pemikiran yang selektif atau terpusat.

 Manfaat Hipnosis

Berdasarkan manfaatnya Hipnosis bisa digolongkan:

  1. Untuk mental reprogramming yaitu untuk pemberdayaan diri sendiri ataupun orang lain.
  2. Terapi penyembuhan untuk berbagai persoalan psikologis,seperti trauma, phobia,fear, dan lain-lainn(hipnoterapi)
  3. Komunikasi persuasif, untuk memengaruhi anak, memengaruhi teman, bawahan, atasan, calon customer agar membeli dan sebagainya.
  4. Public Speaking, menggunakan komunikasi hipnotik untuk presentasi, pidato, komunikasi public lainnya.
  5. Hiburan, yakni stage hypnotism, yang menggunakan efek post hypnotic sesaat untuk memunculkan berbagai situasi lucu, aneh dan tidak masuk akal di atas panggung pertunjukan.
  6. Medis, misal untuk menciptakan efek anestesi (matirasa), memperlancar kelahiran, dan sebagainya

OTAK DALAM KEADAAN HIPNOSA

Studi ini dikembangkan oleh Ned Herrmann yang mempelajari aktivitas otak manusia sehari-hari. Otak adalah organ tubuh bersifat elektrokimia yang dispekulasi dapat menghasilkan energi listrik sebesar 10 watt. Sejumlah peneliti terdahulu pernah mengkalkulasi jika seluruh 10 milyar sel syaraf manusia bisa disambung menjadi satu, maka elektroda  pengukur  akan mencatat angka seperlimajuta hingga seperlimapuluhjuta volt.

Atas   dasar penelitian-penelitian tersebutlah didapatkan  informasi bahwa   gelombang   listrik pada otak manusia juga memiliki pembagian kategori fungsi sebagai berikut.

BETA

Beta adalah kondisi otak   ketika manusia mengerjakan kesibukannya sehari-hari,  yakni  melibatkan kemampuan  analisis  dan berpikir. Seseorang yang sedang  aktif mengobrol berada  pada gelombang beta, sementara    jika berdebat dia akan meningkat ke beta tinggi.  Dengan kata lain, kondisi Beta adalah kondisi aktivitas tinggi dalam berlogika dan berpikir.

ALPHA

Alpha adalah kondisi dimana seluruh proses hipnosis dan sugesti dilakukan. Sering juga disebut sebagai keadaan hipnosa. Seseorang yang pulang dari bekerja dan duduk di sofa untuk beristirahat biasanya langsung turun ke kondisi alfa. Kondisi ini juga terjadi ketika seseorang sedang shalat, berdoa, melakukan refleksi/meditasi, mengarang sebuah cerita, puisi, komposisi musik, atau berjalan-jalan istirahat di taman untuk menghirup udara segar. Kondisi ini adalah kondisi rileks total, tetapi tidak tidur, ini juga disebut kondisi kreativitas tinggi.

THETA

Theta adalah kondisi  aktivitas  otak  yang  jauh  lebih  rendah  daripada  alfa.  Misalnya  ketika  seseorang melamun di tengah rutinitas kerja atau mengemudikan kendaraan tapi lupa apa saja yang terjadi  di sepanjang  jalan.  Beberapa  aliran  hipnoterapi  mengajarkan  bahwa  kondisi  ini merupakan pintu masuk menuju hypnoanaesthesia, yakni sebuah metode pembiusan dengan hipnosis sehingga klien dapat menjalani operasi tanpa merasa rasa sakit apapun.

DELTA

Kondisi seseorang yang sedang tidur nyenyak. Seseorang yang sedang dihipnosis tidak akan memasuki kondisi ini karena dia bukannya mengalami tidur fisik, melainkan keadaan rileks disertai perhatian yang sangat terfokus. Jika seorang klien jatuh tertidur, maka dia akan kehilangan kemampuannya untuk menerima sugesti karena alam bawah sadarnya tidak lagi menjadi reseptif.

Contoh Aplikasi:

Hipnosis Untuk Tujuan Terapi (Hipnoterapi)

Berikut adalah contoh prosedur hypnosis yang digunakan untuk tujuan terapi.

1. Pre-Induction

Bagian ini adalah tahap paling awal dalam proses hypnosis. Proses dimulai dengan interview/percakapan antara terapis dan klien. Tujuannya antara lain menjalin keakraban antara terapis dan klien, memahami masalah klien, menentukan tujuan terapi, dan menjelaskan kepada klien tentang prosedur terapi yang akan dilakukan. Pada saat interview, klien diharapkan tidak malu untuk bertanya tentang apa saja yang mengganjal di hatinya agar proses hipnotis atau hipnoterapi dapat berlangsung lancar.

2. Induction

Induksi adalah cara yang digunakan oleh terapis/hipnotis untuk membimbing klien menuju kondisi hipnosis. Ada banyak teknik yang bisa digunakan untuk induksi. Seorang terapis harus memahami tipe pikiran kliennya sehingga dia bisa menggunakan teknik induksi yang tepat. Seorang   terapis   tidak berhak memaksakan

teknik hipnosisnya kepada orang lain. Syarat utama agar seorang klien bisa sembuh/berubah melalui hipnosis klien harus punya motivasi kuat untuk sembuh/berubah dari dirinya sendiri, bukan karena paksaan orang lain.

3. Deepening

Deepening merupakan kelanjutan dari induksi. Teknik deepening digunakan untuk memperdalam level hipnosis yang dialami klien. Secara sederhana kita bisa membagi level kondisi hipnosis menjadi light trance, medium trance, deep trance atau somnambulism. Level somnambulism merupakan kondisi ideal untuk terapi. Oleh karena itu, apabila setelah induksi klien ternyata belum mencapai kondisi somnambulism, terapis   harus melakukan deepening untuk membimbing klien menuju kondisi somnambulism.

4.Suggestion

Setelah klien mencapai level ke dalam hipnosis yang ideal, terapi pikiran akan dimulai. Bentuk terapinya bisa berupa pemberian sugesti yang sudah dirancang sedemikian rupa atau menggali akar masalah untuk dinetralisir pengaruhnya. Banyak  hipnoterapis  yang kurang memahami bahwa dalam melakukan hipnoterapi, ada teknik-teknik tertentu yang harus dikuasai. Sering kali ada   hipnoterapis   yang karena sudah bisa melakukan induksi dan bisa memberi sugesti secara langsung (direct suggestion), maka dia merasa sudah menguasai seluruh ilmu hipnoterapi. Padahal teknik induksi dan direct suggestion hanyalah bagian kecil dari keseluruhan ilmu terapi hipnosis.

Dalam beberapa kasus, memberi sugesti secara langsung (direct suggestion) memang sangat efektif dan bisa membuat klien mengalami perubahan drastis. Namun apabila masalah yang dihadapi klien disebabkan oleh peristiwa traumatik di masa lalu, maka diperlukan teknik terapi khusus seperti Age Regression, Time Line Therapy, Hypnoanalysis, Forgiveness Therapy, Chair Therapy, atau teknik-teknik terapi lainnya.

5. Termination

Inilah bagian akhir dari sebuah sesi terapi hypnosis. Di bagian ini terapis membangunkan kliennya dari kondisi hypnosis, meskipun sebenarnya klien bisa saja bangun sendiri, jika dibiarkan. Ini menunjukkan bahwa kondisi ‘tertidur’ hypnosis itu sifatnya hanya sementara, dan tidak pernah terjadi ada klien yang tidak sadar setelah di terapi.

Proses hipnosis/terapi di atas adalah proses yang pada umumnya dilakukan dalam hipnoterapi. Pada kenyataannya, proses ini bisa dimodifikasi bahkan menjadi sangat sederhana, seperti yang diterapkan di dalam NLP.

 

Ingin belajar sendiri hypnosis? klik di sini

 

 

2 Responses so far.

  1. Boy berkata:

    Wah, jadi pengen belajar hipnotis nih! Emang bisa seperti Uya Kuya? cekidot ah!

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

  • Arsip